Di beranda waktu yang kian menua Aku menenun sabar pada seutas asa Membiarkan musim berganti memeluk lara Menanti pastimu yang tak kunjung tiba
Pintu yang sama berkali-kali kubuka Memberi ruang pada langkah yang kerap berdusta Kukira degup ini bermuara pada nyata Nyatanya, aku hanya merengkuh fana
Bangunan angan yang kususun sepenuh hati Kau runtuhkan hanya dalam sekejap sunyi Harapan yang kurawat agar terus bersemi Kini hangus menjelma abu tak bertepi
Lalu meluncurlah kata-kata dari bibirmu Ringan, sepele, seolah hanya desir angin lalu Namun bagiku ia adalah belati bermata semu Mengoyak harga diri menempatkanku di sudut pilu
Kau buat aku merasa tak pantas merapal pinta Karena bagimu, lukaku hanyalah ketiadaan makna Kini, biarlah kepingan asa ini memudar di udara Sebab menantimu, adalah caraku membunuh jiwa
Leave a Reply