Jurnalis SMK Muhammadiyah 8 Siliragung

Sajak di Sudut Putih Biru

Kelas Damai di Pagi Hari
Ilustrasi
Kala itu,
Di ambang senja masa putih biru yang kian tanggal,
Tumbuh benih rasa yang tak sempat kusemai,
Mekar liar dalam sunyi, melampaui segala definisi yang pernah ada.

Sudut kelas itu adalah poros bagi segala pandangku,
Tempat bersemayam sepasang netra yang menyimpan rahasia,
Milik seorang remaja dengan tabiat yang membeku—
Serupa kutub yang enggan meluruh, meski musim mulai berganti.

Ia adalah sajak yang tak selesai dibaca,
Sangat irit aksara, hingga sunyi menjadi bahasa kita.
Namun anehnya, debar ini kian rimbun dalam keterasingan.
Lihai ia memagari diri dari bisingnya dunia,
Hingga tak satu pun mampu menjamah palung jiwanya.

Pernah kususun segala muslihat yang paling gila,
Sekadar untuk mencuri satu-dua kata di antara kita.
Namun kenyataannya?
Dialog kita hanyalah remah-remah kata yang gugur sebelum sempat bermakna.

Barangkali aku hanyalah peziarah yang kurang beruntung,
Menaruh kasih pada kebekuan yang menjelma rupa manusia.
Tapi setidaknya, aku pernah menetap dalam ingatan tentangnya.
Banyak tanya yang ingin kuurai,
Namun waktu lekas memanggilnya pulang, menjauh dari jangkauan.

Maka, tanpa kata dan tanpa temu,
Ditambah bentang jarak yang kini membentang bisu,
Kita kembali menjadi dua asing yang saling memunggung.

Mungkin inilah titik bagi rasa yang tak pernah menemukan muaranya.
Sayu tatapnya masih terpatri, menjadi hiasan dalam benak,
Dan lengkung senyum itu
Akan abadi sebagai lukisan paling sunyi di dalam kepalaku.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *