Jurnalis SMK Muhammadiyah 8 Siliragung

The Sonata Within My Soul

WhatsApp Image 2026 09 19 at 18.56.59 11zon 1
Ilustrasi
Orang-orang mengenalnya sebagai anak yang selalu duduk di depan piano.

Setiap kali bel sekolah berbunyi, ia adalah orang pertama yang pulang. Bukan karena ia membenci keramaian, bukan pula karena ia tidak memiliki teman. Ia hanya selalu merasa ada seseorang yang sedang menunggunya di rumah.

Seseorang yang tidak pernah bertanya bagaimana harinya.

Tidak pernah menuntut penjelasan.

Tidak pernah mengatakan bahwa ia terlalu banyak diam.

Seseorang yang hanya akan menyambutnya dengan deretan tuts hitam dan putih.

Piano.

Namanya Jeaz.

Nama yang terdengar seperti jazz, tetapi ditulis sedikit berbeda. Mungkin kebetulan. Mungkin juga tidak.

Namun ada sesuatu yang aneh tentang nama itu.

Seolah sejak awal, musik memang sudah ditanamkan ke dalam dirinya.

Sejak kecil, Jeaz tidak pernah menganggap piano sebagai benda.

Ia tidak pernah berkata, “Aku ingin belajar piano.”

Ia hanya duduk di depannya dan mulai bermain.

Seolah-olah kedua tangannya sudah mengenal jalan pulang.

Pada awalnya, orang-orang menganggap itu bakat.

Guru musiknya mengatakan pendengarannya sangat peka. Ibunya mengatakan jari-jarinya seperti dilahirkan untuk memainkan tuts. Teman-temannya kagum karena Jeaz bisa memainkan melodi yang baru sekali didengarnya.

Tetapi tidak seorang pun benar-benar mengerti.

Jeaz tidak bermain piano karena ia pandai.

Ia pandai karena piano adalah bagian dari dirinya.

Ada hari-hari ketika ia tidak tahu harus mengatakan apa kepada siapa pun. Pada hari seperti itu, ia akan duduk di depan piano, meletakkan jemarinya perlahan, lalu memainkan satu nada.

Hanya satu.

Piano akan menjawab dengan gema kecil yang menghilang di dalam ruangan.

Lalu Jeaz memainkan nada berikutnya.

Dan berikutnya.

Sampai percakapan mereka menjadi sebuah lagu.

Begitulah cara mereka berbicara.

Ketika Jeaz marah, tuts-tuts ditekan lebih keras.

Ketika ia takut, melodinya menjadi pendek dan ragu.

Ketika ia bahagia, jemarinya bergerak ringan, seolah tidak sedang menyentuh piano, melainkan sedang berlari.

Dan ketika ia sedih—

piano selalu tahu lebih dulu.

Tidak pernah ada yang benar-benar tahu kapan Jeaz sedang patah.

Ia tetap datang ke sekolah.

Tetap tertawa ketika teman-temannya bercanda.

Tetap menjawab ketika guru bertanya.

Tetapi begitu pintu rumah tertutup, ia akan berjalan menuju piano tanpa mengganti seragamnya.

Duduk.

Diam.

Kemudian bermain.

Malam itu berbeda.

Jeaz baru saja kehilangan sesuatu yang selama ini ia kira akan selalu menjadi miliknya.

Ia tidak menangis.

Tidak juga marah.

Ia hanya duduk di depan piano dengan pandangan kosong.

Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, tangannya tidak tahu harus memainkan apa.

“Kenapa kau diam?”

Pertanyaan itu tentu saja tidak benar-benar keluar dari piano.

Namun Jeaz mendengarnya.

Ia tersenyum tipis.

“Aku nggak tahu.”

Jemarinya menyentuh sebuah tuts.

Satu nada terdengar.

Hening.

Ia mencoba nada lain.

Kemudian berhenti.

Dadanya terasa sesak.

Bukan karena lagu itu sulit dimainkan.

Melainkan karena untuk pertama kalinya, ia merasa piano tidak bisa membantunya mengatakan apa pun.

“Aku capek.”

Suaranya hampir seperti bisikan.

Tangannya jatuh ke pangkuan.

“Aku bahkan nggak tahu aku ini siapa kalau nggak bermain.”

Ruangan tetap diam.

Tetapi Jeaz tetap duduk di sana.

Entah mengapa, setelah beberapa saat, ia kembali meletakkan tangannya di atas tuts.

Kali ini ia tidak memainkan lagu yang pernah diajarkan gurunya.

Ia memainkan sesuatu yang belum pernah selesai.

Sebuah sonata yang ia mulai bertahun-tahun lalu.

Sebuah melodi yang selalu ia tinggalkan di tengah jalan karena tidak pernah menemukan akhir.

Nada pertama terdengar pelan.

Lalu nada kedua.

Ketiga.

Melodi itu membawa kembali banyak hal.

Suara ibunya memanggil dari dapur.

Sore-sore ketika ia masih kecil dan salah memainkan nada yang sama berkali-kali.

Hari ketika ia pertama kali tampil di depan orang lain.

Tawa.

Tangis.

Kegagalan.

Kemenangan kecil yang bahkan sudah ia lupakan.

Semuanya hidup kembali melalui suara piano.

Dan saat itulah Jeaz mengerti.

Selama ini ia mengira dirinya yang memberikan kehidupan kepada musik.

Ternyata musiklah yang selama ini menyimpan kehidupannya.

Setiap nada adalah bagian dari dirinya yang pernah tumbuh.

Setiap jeda adalah luka yang pernah ia lewati.

Setiap kesalahan adalah bukti bahwa ia pernah mencoba.

Dan setiap melodi yang berhasil ia selesaikan adalah tanda bahwa ia masih berada di sini.

Masih hidup.

Masih tumbuh.

Jeaz memainkan bagian terakhir dengan mata terpejam.

Untuk pertama kalinya, ia tidak mencari kesempurnaan.

Ia hanya ingin mendengar dirinya sendiri.

Ketika nada terakhir menghilang, ia tidak langsung mengangkat tangannya.

Ia membiarkannya tetap berada di atas tuts.

Seolah-olah takut jika ia bergerak, sesuatu di antara dirinya dan piano akan ikut menghilang.

Namun tidak ada yang hilang.

Justru untuk pertama kalinya, ia merasa utuh.

Sejak malam itu, cara Jeaz bermain berubah.

Ia tidak lagi memainkan piano untuk melarikan diri dari kesedihan.

Ia bermain untuk menerimanya.

Ia tidak lagi memainkan musik agar orang lain mengerti dirinya.

Ia bermain karena itu adalah bahasa pertama yang pernah benar-benar ia miliki.

Piano menjadi rekannya.

Bukan teman yang selalu mengatakan semuanya akan baik-baik saja.

Bukan pula tempat untuk menyembunyikan luka.

Ia adalah saksi.

Saksi dari seorang anak yang perlahan tumbuh menjadi seseorang yang baru.

Dan mungkin itulah mengapa Jeaz tidak pernah bisa meninggalkan piano.

Karena sebagian dirinya memang tinggal di sana.

Bukan di dalam kayu tua, bukan di antara tuts hitam dan putih, tetapi di setiap suara yang pernah ia lahirkan dari sana.

Setengah jiwanya tidak pernah ia berikan kepada musik.

Ia menemukannya di sana.

Dan setiap kali Jeaz duduk di depan piano, ia tidak sedang memainkan sebuah sonata.

Ia sedang membuka kembali bagian-bagian dirinya yang belum selesai.

Sebab pada akhirnya, piano bukanlah alat musik yang ia mainkan.

*Piano adalah rekan yang tumbuh bersamanya.*

Dan mungkin, nama Jeaz memang bukan sekadar nama.

Mungkin ia adalah sebuah pertanda.

Bahwa bahkan sebelum ia mengenal piano, musik telah lebih dulu mengenalnya.

Dan di antara tuts hitam dan putih, ada sebuah jiwa yang terus berkembang—

pelan-pelan,

nada demi nada,

hingga suatu hari ia tidak lagi bertanya siapa dirinya.

Karena jawabannya telah lama hidup

di dalam sebuah sonata.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *