Bentuk Karakter Mandiri, Darul Arqam SMK Models Ajarkan Siswa Ibadah Tanpa ”Remote”

Models Jurnalisme, 27 Februari 2026 – Dalam rangka mengisi Bulan Suci Ramadan 1447 Hijriah, SMK Muhammadiyah 8 Siliragung (SMK Models) menyelenggarakan kegiatan Darul Arqam. Program penguatan karakter ini berlangsung selama sepekan penuh, mulai dari 23 hingga 28 Februari 2026.

Berbeda dari tahun-tahun sebelumnya, kegiatan kali ini melibatkan seluruh siswa kelas X dan XI dengan bimbingan langsung dari dewan guru SMK Models. Materi yang disampaikan pun telah disusun secara khusus untuk fokus pada penguatan karakter siswa.

Menariknya, materi Darul Arqam dikemas dengan metode yang dekat dengan dunia remaja. Setiap sesi pembinaan diberi nama singkatan yang unik agar nilai-nilai keagamaan lebih mudah dipahami. Salah satu di antaranya adalah Tas Bu Jumi (Tadarus dan Asmaul Husna Bersamaku Jumat Pagi) sebuah upaya membiasakan siswa mengawali hari dengan aktivitas religius.

Sejalan dengan hal tersebut, Waka Al-Islam, Kemuhammadiyahan, dan Bahasa Arab (Ismuba), Ibu Fela Layyin, menyampaikan bahwa religiusitas adalah proses pribadi yang perlu difasilitasi oleh sekolah. Melalui materi pembinaan, kisah-kisah Islami, serta pembiasaan disiplin, sekolah berupaya membentuk mentalitas siswa yang tangguh.

“Ramadan adalah proses detoksifikasi jiwa. Kami ingin siswa belajar menahan diri dan tidak sekadar menuruti keinginan. Dari sinilah revolusi kesalehan terbentuk, sehingga mereka menjadi pribadi yang lebih sabar, empatik, dan peduli,” ujar Ibu Fela.

Semangat para siswa terlihat sangat tinggi selama pelaksanaan kegiatan. Meski wilayah Siliragung sempat diguyur hujan deras pada Selasa (24/2/2026), kehadiran siswa tetap konsisten mengikuti rangkaian pembinaan hingga usai.Kepala SMK Models, Rudy Agus Setiawan, S.T., menjelaskan bahwa Darul Arqam merupakan inti dari pendidikan di sekolah Muhammadiyah. Meski di sekolah lain sering disebut sebagai Pondok Ramadan atau Pesantren Kilat, esensi yang diusung tetaplah pendalaman spiritual.Di sisi lain, sekolah tetap mengedepankan nilai inklusivitas. Siswa nonmuslim (Hindu, Kristen, dan Buddha) juga mendapatkan pendampingan khusus dari guru agama masing-masing.

“Output yang diinginkan adalah peningkatan religiusitas bagi seluruh siswa, baik muslim maupun non-muslim. Intinya adalah meningkatkan kepercayaan kepada Tuhan Yang Maha Esa agar ilmu agama tersebut bisa diaplikasikan di rumah dan masyarakat,” ungkap Pak Rudy.

Terkait perubahan karakter, pihak sekolah menargetkan lahirnya kesadaran spiritual mandiri. Pak Rudy menegaskan bahwa keberhasilan sepekan pembinaan ini diukur dari bagaimana siswa menjalankan ibadah tanpa harus diperintah atau “diremot” oleh guru dan orang tua.

“Perubahan paling mendasar adalah kesadaran beribadah. Jika waktu salat tiba, ya langsung salat, tidak perlu diteriaki lagi. Kami ingin aplikasi keagamaan seperti salat dan zakat benar-benar mendarah daging dalam kehidupan sehari-hari,” tegasnya.

Keputusan sekolah mengalokasikan waktu satu minggu penuh bertujuan untuk mencapai empat target utama, yakni regenerasi rasa cinta kepada Tuhan Yang Maha Esa, peningkatan mentalitas religius siswa, penguatan kesadaran ibadah sesuai agama masing-masing, serta pengisian Ramadan dengan aktivitas positif.Meskipun format tahun ini dirasa lebih ringan karena siswa diperbolehkan pulang setelah Zuhur berbeda dengan format “mondok” di tahun-tahun terdahulu, semangat yang diusung tidak berkurang. Darul Arqam diharapkan mampu menumbuhkan kesadaran beribadah yang tumbuh dari dalam diri sebagai bekal utama dalam kehidupan bermasyarakat.

Pimred: Saskia

Editor : Hilda

Fotografer : Hilda & Keyla

Reporter : Hilda & Keyla

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *