
Models Jurnalisme, 16 April 2026 — Upaya mencegah praktik perkawinan anak terus digencarkan melalui berbagai kegiatan edukasi. Salah satunya dilakukan oleh SMK Muhammadiyah 8 Siliragung (SMK Models) dengan menggelar Sosialisasi Sertifikasi Pencegahan Perkawinan Anak di Lingkungan Sekolah pada Selasa, 14 April 2026, di Ballroom Ed Hotel SMK Models.
Kegiatan yang dimulai pukul 09.30 WIB tersebut dihadiri oleh perwakilan Dinas Sosial PPKB (Pemberdayaan Perempuan dan Keluarga Berencana) Kabupaten Banyuwangi, jajaran sekolah, serta siswa-siswi kelas X jurusan Teknik Informatika yang meliputi program keahlian TJKT (Teknik Jaringan Komputer dan Telekomunikasi) dan PPLG (Pengembangan Perangkat Lunak dan Gim). Dengan antusias seluruh peserta mengikuti kegiatan tersebut.
Sosialisasi ini bertujuan untuk meningkatkan pemahaman siswa mengenai risiko dan dampak perkawinan anak, sekaligus menumbuhkan kesadaran untuk menjaga masa depan melalui pendidikan dan pengembangan diri.
Dalam sambutannya, Kepala SMK Models, Rudy Agus Setiawan, S.T., membuka acara dengan penuh semangat yang disambut antusias oleh para siswa. Beliau menegaskan bahwa kegiatan ini merupakan bentuk kepedulian sekolah terhadap masa depan generasi muda, khususnya dalam melindungi siswa dari risiko pernikahan anak yang dapat menghambat pendidikan dan pengembangan diri.

Selain itu, beliau juga menyoroti pengaruh perkembangan teknologi terhadap pola pikir remaja, terutama dalam penggunaan handphone yang tidak bijak. Oleh karena itu, beliau berpesan agar siswa cerdas memanfaatkan perangkat digital dan menggunakannya sesuai kebutuhan serta nilai-nilai positif.
Memasuki sesi inti, perwakilan dari Dinas Sosial PPKB Kabupaten Banyuwangi, Fitriatul Masruroh selaku psikolog sekaligus dosen, memaparkan materi mengenai bahaya dan dampak pernikahan anak. Beliau menegaskan bahwa pernikahan di usia muda bukanlah solusi, melainkan awal dari berbagai permasalahan jika tidak dipersiapkan dengan matang.
“Masih banyak yang menganggap bahwa pernikahan di usia muda itu adalah sebuah solusi, padahal sering kali justru menjadi awal sebuah masalah baru,” ujarnya.
Dalam pemaparannya, ia menjelaskan tiga dampak utama, yaitu risiko kesehatan reproduksi, ketidaksiapan mental, serta masalah ekonomi akibat kurangnya pendidikan dan keterampilan. Beliau juga berpesan agar siswa menjadi generasi yang cerdas dan bijak menggunakan teknologi, khususnya untuk menyebarkan berita baik dan edukasi.
Melalui kegiatan ini, siswa diharapkan mampu memahami pentingnya menjaga masa depan dan berani menolak pernikahan anak dengan tegas. Ia juga berpesan khusus kepada siswa-siswi SMK Models untuk menjadi pelopor dan berani berkata ”tidak” pada pernikahan anak.





Leave a Reply