Jurnalis SMK Muhammadiyah 8 Siliragung

Inovatif & Informatif

Melampaui Pingitan, Memoar Luka R.A. Kartini

,
FotoCiciAristaDeviS.Pd.
Foto Cici Arista Devi S.Pd.

Setiap kali bulan April menyapa, kita seolah dipaksa masuk dalam sebuah mesin waktu yang serba molek. Kita melihat parade kebaya, sanggul yang simetris, dan kutipan inspiratif yang menghiasi layar gawai. Namun, jika kita bersedia melepaskan sejenak atribut seremonial itu dan masuk ke dalam sunyinya surat-surat yang ditulis oleh Raden Ajeng Kartini. Beliau tidak sedang menulis buku panduan menjadi perempuan anggun melainkan mengejawentahkan guratan luka.

Luka Kartini bukanlah luka yang bisa sembuh hanya dengan selembar ijazah atau kebebasan keluar rumah. Ia adalah luka eksistensial pikirannya mampu melompati samudera, namun eksistensinya dipenjara oleh tembok tebal patriarki yang membisu. Dalam salah satu suratnya yang paling menyayat, ia menulis

“Aku tahu, jalan yang hendak kutempuh itu sukar, penuh duri, semak belukar, jalannya licin, mendaki, lagi pula belum dirintis! Dan meskipun aku tidak beruntung sampai ke ujung jalan itu, meskipun aku sudah patah di tengah jalan, aku akan mati dengan rasa bahagia …” (Kumpulan surat dalam Buku Habis Gelap Terbitlah Terang)

Pingitan Psikologis, Manuskrip Luka dalam Diam

Dahulu, “pingitan” adalah tembok fisik. Sebuah ruang isolasi bagi perempuan yang baru saja menginjak usia balig, di mana langkah kaki mereka dibatasi hanya sampai pagar rumah maisng-masing. Bagi Kartini, pingitan adalah bentuk pembunuhan karakter yang paling halus. Di usia ketika rasa ingin tahu sedang mekar, perempuan Jawa kala itu dipaksa “mati secara perdata”.

Marilah kita merenung sejenak. Apakah saat ini pingitan itu benar-benar sudah runtuh? mungkin ya. Perempuan hari ini bisa melintasi benua untuk menempuh pendidikan tinggi. Namun, secara sosiologis, pingitan itu sering kali hanya berpindah tempat dari tembok batu ke dalam tembok pikiran.

Kita masih melihat bagaimana bias gender bermutasi menjadi suara-suara sumbang di ruang publik. “Sekolah tinggi-tinggi nanti ujungnya ke dapur juga,” atau stigma bahwa perempuan yang ambisius adalah perempuan yang “lupa kodrat”. Ini adalah pingitan mental, sebuah ruang isolasi tak kasat mata yang membuat perempuan sering kali merasa bersalah ketika mereka memilih untuk berdaya dan melampaui standar domestik.

Hegemoni “Konco Wingking”

Dalam budaya Jawa, istilah konco wingking (teman di bagian belakang) adalah representasi visual yang paling nyata dari posisi perempuan sebagai subordinat. Kartini menggugat ini bukan karena ia benci menjadi orang Jawa, melainkan karena ia melihat betapa tidak adilnya ketika kecerdasan perempuan hanya diringkas dalam trinitas fungsi macak, masak, manak (berhias, memasak, melahirkan).

Jika ditelisik lebih jauh representasi perempuan di ruang publik saat ini, kita akan menemukan fenomena yang sering disebut sebagai “Langit-langit Kaca” (Glass Ceiling). “Langit-langit” ini terbuat dari kaca artinya transparan,  di atas kertas, semua orang punya hak yang sama. Namun dalam realitasnya? Perempuan akan terhalang oleh beberapa aturan yang tidak mengikat namun harus dipatuhi. Berkedok dibalik kata ‘kodrat’.

Selain itu ada beban ganda (double burden) yang menghimpit, perempuan dituntut profesional di luar rumah namun tetap harus memikul beban domestik sendirian tanpa adanya pembagian tanggung jawab yang adil. Inilah “memoar luka” versi modern. Perempuan diberi izin untuk keluar dari pingitan fisik, tapi langkahnya masih diberati oleh ekspektasi sosial yang tidak seimbang.

Ini adalah ironi besar. Sebuah kebebasan yang semu, di mana perempuan bisa melihat puncak kesuksesan tepat di atas kepala mereka, namun tidak pernah benar-benar diizinkan menyentuhnya karena terhalang oleh aturan tak tertulis dari masa lalu.

Stigma “Suarga Nunut, Neraka Katut

Salah satu poin paling tajam dalam pemikiran Kartini adalah penolakannya terhadap filosofi suarga nunut, neraka katut (ke surga ikut, ke neraka pun terbawa). Filosofi ini menempatkan perempuan sebagai entitas yang tidak memiliki kontrol atas nasibnya sendiri. Kehormatan dan masa depannya dianggap sepenuhnya “menumpang” pada laki-laki.

Kartini ingin kita menjadi agen yang mandiri. Beliau pernah berpesan dalam bukunya

“Pekerjaan belum selesai, belum boleh berhenti. Teruslah bekerja, teruslah berjuang, teruslah maju!”

Menjadi perempuan yang berkemajuan berarti menjadi pribadi yang bertanggung jawab penuh atas dirinya sendiri. Kita tidak lagi hanya “numpang” pada nasib orang lain, tetapi menjadi penentu atas jalan hidup kita sendiri di hadapan Tuhan dan sejarah.

Menyembuhkan Luka, Menyalakan Pelita di Ujung Jalan

Terlepas dari euforia momentum peringataan Hari Kartini, apakah kita sudah benar-benar melampaui pingitan itu? Ataukah kita hanya berpindah dari satu sangkar ke sangkar yang lebih luas, dengan jeruji yang lebih samar dan transparan?

Esensi Kartini bukanlah sekadar kain batik yang kita lilitkan di pinggang setiap tanggal 21 April. Esensi Kartini adalah pada keberanian merobek luka eksistensial dan menggantinya dengan narasi baru yang lebih memanusiakan. Kartini telah membuka pintu gerbang itu dengan jemari yang gemetar namun hati yang teguh. Tugas kita sekarang bukan lagi hanya sekadar melintasi pintu tersebut, tapi memastikan bahwa tidak akan ada lagi perempuan yang merasa asing di negerinya sendiri hanya karena ia terlahir sebagai perempuan.

Mari kita merenung, di antara riuhnya perayaan dan deru modernitas:

Masih adakah tembok pingitan yang diam-diam kita bangun sendiri di dalam kepala? Masihkah kita membiarkan seorang perempuan merasa asing dan kecil di negerinya sendiri hanya karena ia memiliki mimpi yang melampaui batas dapurnya?

Luka Kartini hanya akan benar-benar sembuh saat tidak ada lagi perempuan yang harus “meminta izin” pada dunia untuk menjadi cerdas. Saat tidak ada lagi perempuan yang merasa “bersalah” karena memiliki ambisi. Dan saat tidak ada lagi manusia yang dianggap “numpang” dalam sejarah hanya karena ia lahir sebagai perempuan.

Pekerjaan ini belum usai. Pintu itu sudah terbuka, namun jalan di depan masih mendaki dan licin. Sekarang, pertanyaan besarnya bukan lagi tentang apa yang telah Kartini goreskan bagi peradaban, melainkan tentang apa yang kita lakukan dengan pelita yang beliau wariskan di persimpangan nurani. Apakah kita akan menjadi jemari yang dengan saksama meruntuhkan sisa-sisa tembok itu hingga menjadi debu ataukah tanpa sadar kita justru sedang memunguti batu-batunya kembali menyusunnya menjadi jeruji-jeruji baru yang lebih halus bagi generasi perempuan setelah kita?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *