
Models Jurnalisme, 27 April 2026 – Sabtu siang itu, 25 April 2026, jarum jam baru saja menyentuh angka 11.00 WIB. Basement Ed-Hotel SMK Muhammadiyah 8 Siliragung (SMK Models) yang semula riuh rendah oleh tepuk tangan kegembiraan, mendadak senyap. Atmosfer berganti rupa, sebuah melodi instrumen yang getir mulai merayap pelan di sela-sela pilar bangunan, membekukan tawa yang baru saja pecah.
Sejak pukul 07.30 WIB, gedung ini memang diselimuti gairah formalitas dalam rangka Pelepasan Siswa Kelas XII Angkatan ke-22 Tahun Pelajaran 2025/2026. Sebanyak 392 purnasiswa resmi dilepas pada momentum tersebut, menandai berakhirnya perjalanan pendidikan mereka di SMK Models. Kursi-kursi barisan depan sempat penuh oleh deretan tamu penting, dari Kepala Cabang Dinas (Kacabdin) Banyuwangi, Ketua Majelis Pendidikan Dasar dan Menengah (Dikdasmen) Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Banyuwangi, Pimpinan Cabang Muhamamdiyah dan Aisiyah Siliragung hingga jajaran Forum Koordinasi Pimpinan Kecamatan (Forkopimcam) Siliragung yang datang membawa apresiasi.
Namun, begitu pengalungan gordon terakhir selesai, protokoler itu pun menguap. Para pejabat beranjak pergi, meninggalkan ruang yang kini terasa lebih luas, lebih privat, dan jauh lebih sakral bagi keluarga besar SMK Models untuk melaksanakan prosesi sungkeman kepada orang tua masing-masing
Di bawah sorot matahari yang menerobos masuk ke area basement, para siswa-siswi tampil gagah dan anggun dengan jas serta riasan terbaiknya, menandai keberhasilan akademis setelah tiga tahun menempuh pendidikan di sekolah kejuruan ini. Namun, di balik penampilan yang penuh kebanggaan itu, ada tangan-tangan yang mereka cium siang itu tangan-tangan yang kasar karena pacul , jemari yang kering terpanggang terik matahari, sekaligus tangan yang diam-diam menengadah di sepertiga malam, merayu Sang Pencipta agar langkah pendidikan anak-anak mereka tak tersendat di tengah jalan.
Suasana haru tak lagi terbendung. Isak tangis pecah seketika, menggantikan keheningan saat para siswa membenamkan wajah di pangkuan orang tua mereka. Di bawah lantunan narasi puitis yang dibawakan oleh Cici Arista Devi, S.Pd. bersama Firdiana Agustina, siswi kelas XI PPLG, segala bentuk pencapaian akademis dan rasa bangga karena telah lulus seketika luruh.
Pada momen itu, mereka bukan lagi wisudawan yang siap menaklukkan dunia, melainkan hanyalah seorang anak yang sedang meminta ampun atas segala khilaf. Bereterimakasih atas segala hal yang diusahakan oleh orang tua mereka.
Beberapa guru dan staf karyawan SMK Models yang masih bertahan tampak berulang kali menyeka sudut mata. Mereka menjadi saksi bagaimana doa-doa dari rumah sederhana, yang mungkin berjarak jauh dari kemewahan hotel ini, kini telah berhasil mengantarkan langkah anak-anak tersebut tepat di gerbang masa depan.
Sesi sungkeman siang itu bukan sekadar seremoni penutup. Ia adalah sebuah pengakuan jujur bahwa di balik status kelulusan yang kini mereka sandang, ada peluh yang tak pernah ditagih dan pengorbanan yang tak pernah menuntut balas.

Cici Arista Devi, S.Pd mengungkapkan
“Ketulusan orang tua itulah yang justru menjadi napas paling panjang bagi langkah mereka selanjutnya, pada momen pihak sekolah hanya ingin anak-anak menjadi lebih jujur untuk mengucapkan permohonan maaf dan berterimakasih pada setiap pengorbanan dan peluh yang selalu orang tua mereka usahakan.”
Tepat pukul 11.30 WIB, acara benar-benar usai. Riuh rendah kegembiraan telah berlalu, menyisakan jejak air mata di lantai beton basement yang kini merawat ingatan atas setiap pelukan dan isak haru, bahwa selesainya masa sekolah hanyalah sebuah pembuka pintu proses perjalanan yang akan mereka tapaki selanjutnya, sementara restu orang tua adalah bekal utama untuk menempuh perjalanan panjang yang baru saja dimulai.





Leave a Reply