
Models Jurnalisme, 15 Mei 2026 — Lapangan Tegal Agung, Siliragung menjadi saksi bisu sebuah upaya pembentukan karakter secara kilat. Di tengah bayang ketegangan Ujian Praktik dan Penilaian Akhir Tahun (PAT) Semester Genap yang menanti di depan mata, para siswa SMK Muhammadiyah 8 Siliragung (SMK Models) justru diajak berjemur dan menguras keringat dalam program Bimbingan Mental dan Fisik (Bintalsik). Pertanyaannya kini mengemuka tajam di ruang publik, efektifkah rutinitas ini untuk masa depan mereka, atau sekadar ritual tahunan pengisi celah kalender akademik?
Kepala SMK Models, Rudy Agus Setiawan, S.T., memiliki pandangan idealis mengenai program ini. Menurut penuturannya, bintalsik dirancang secara khusus untuk melatih fisik yang kuat dan mental yang tangguh. Harapan utamanya adalah agar para siswa siap menghadapi kerasnya dunia kerja, yang diyakini lebih melelahkan dibandingkan kenyamanan bangku sekolah. Sebuah niat mulia untuk mencetak gladiator muda sebelum mereka benar-benar dilepas ke arena industri.
Pelaksanaan kegiatan yang berdekatan dengan masa ujian tentu memunculkan kerut di dahi banyak pihak. Mengapa harus sekarang, tepat ketika siswa membutuhkan konsentrasi penuh untuk urusan akademik?
Bapak Rudy menepis kekhawatiran tersebut. Ia menyatakan bahwa jadwal ini tidak bermasalah karena sudah diatur sedemikian rupa oleh manajemen sekolah sebelum ujian berlangsung. Sungguh ironi, latihan fisik di lapangan terbuka tersebut ternyata diyakini mampu melatih ketepatan waktu datang ke tempat ujian serta menanamkan ketertiban dalam bersopan santun. Barangkali, berdiri tegap di bawah terik matahari memang dinilai sebagai metode pemanasan paling mujarab untuk menjawab soal ujian.
Tentu saja, pihak sekolah tidak sepenuhnya menutup mata terhadap realitas. Bapak Rudy menyadari betul bahwa sihir pembentukan karakter tidak akan pernah bekerja hanya dalam hitungan hari. Proses mendidik etika dan kedisiplinan bukanlah sesuatu yang instan.

“Pembentukan karakter harus continue, dan bintalsik hanya bagian kecil dari pembentukan karakter,” jelas Bapak Rudy. Sebuah pengakuan rasional bahwa satu agenda di lapangan tidak bisa secara otomatis menyulap ratusan siswa menjadi teladan kedisiplinan.
Fakta paling menggelitik justru muncul ketika menyinggung soal efisiensi dan relevansi program, khususnya bagi siswa kelas XI yang selangkah lagi memasuki fase Praktik Kerja Lapangan (PKL). Secara jujur, Kepala SMK Models itu mengakui bahwa untuk angkatan tahun ini, program Bintalsik sebenarnya belum sepenuhnya relevan.
Penyebab utamanya sangat klasik, yakni kalender pendidikan yang terlampau padat. Program yang idealnya membutuhkan waktu penggemblengan selama tiga hari penuh, terpaksa dikompres dan dieksekusi hanya dalam satu hari.
Pada akhirnya, di tengah himpitan jadwal dan keterbatasan waktu, sekolah hanya bisa bersandar pada sisa-sisa optimisme. Meskipun hanya dilaksanakan dalam tempo satu hari yang sangat singkat, sekolah masih menaruh asa agar ada remah-remah efek positif yang tertinggal dalam diri siswa, walau diakui hasilnya tidak akan banyak.
Bintalsik SMK Models tahun ini tampaknya menjadi potret nyata bagaimana dunia pendidikan kita seringkali harus berkompromi dengan keadaan. Entah seberapa jauh mental baja para siswa benar-benar bisa terbentuk dalam waktu 24 jam. Atau mungkin, ketangguhan mental yang sesungguhnya diuji adalah kemampuan mereka bertahan mengikuti program sehari yang terjepit di antara tumpukan beban ujian akademik. Apapun itu, selamat bersiap menuju dunia kerja. Semoga keringat sehari di Tegal Agung cukup untuk menjadi bekal di masa depan.
Pimred: Saskia
Reporter: Abon, Munvilo
Editor: Ananda
Fotografer: SMK Models
Layouter: Karisa





Leave a Reply