
Models Jurnalisme, 5 Juni 2026 — SMK Muhammadiyah 8 Siliragung (SMK Models) resmi memulai agenda Penilaian Akhir Tahun (PAT) untuk Tahun Pelajaran 2025/2026. Ujian yang menjadi penentu fase kenaikan kelas bagi siswa-siswi kelas X dan XI ini dijadwalkan berlangsung selama satu pekan penuh, dimulai sejak Selasa, 3 Juni 2026, hingga berakhir pada Selasa, 9 Juni 2026 mendatang.
Untuk memastikan seluruh rangkaian ujian berjalan sesuai dengan regulasi dan standar mutu pendidikan, Bambang Sulistio, S.St.Pi., M.M., selaku Pendamping Satuan Pendidikan SMK Cabang Dinas (Cabdin) Banyuwangi, turun langsung melakukan kegiatan monitoring dan evaluasi (monev). Dalam peninjauan ketat tersebut, hadir mendampingi Wakil Kepala Sekolah (Waka) Bidang Kurikulum SMK Models, Suwono, S.Pd.
Fokus utama dalam monev kali ini tertuju pada pemanfaatan teknologi yang diterapkan oleh pihak sekolah. Berbeda dengan ujian konvensional, PAT di SMK Models tahun ini sepenuhnya mengintegrasikan sistem digital melalui aplikasi Pintaar.id yang dilengkapi dengan fitur lockdown browser.
Sistem lockdown browser ini dirancang khusus untuk mengunci perangkat atau gawai milik siswa selama ujian berlangsung. Ketika aplikasi aktif, siswa sama sekali tidak memiliki akses untuk membuka tab pencarian internet, bertukar pesan, maupun mengakses aplikasi lain di luar lembar soal. Langkah progresif ini mendapatkan apresiasi tinggi dari Pak Bambang selaku pengawas wali.
Ketika dimintai keterangan mengenai tren digitalisasi ini, Pak Bambang mengakui bahwa perpindahan model ujian dari manual berbasis kertas ( paper-based ) menuju digital sudah mulai diadopsi oleh banyak sekolah dengan berbagai macam aplikasi pendukung. Namun, ia menekankan bahwa efektivitas sistem ini selalu memiliki dua sisi mata uang.
“Efektif dan tidaknya itu bergantung dari mana sisi kita melihatnya, karena setiap program pasti ada sisi positif dan negatifnya. Tapi dengan kondisi yang sekarang sudah serba digital, kita juga harus belajar bagaimana model ujian digital ini. Hal ini penting untuk membekali anak-anak, karena sistem ujian di luar sana nantinya sudah menggunakan digital semuanya. SMK Models sudah memulai langkah ini agar anak-anak terbiasa,” jelas Pak Bambang.
Lebih lanjut, Pak Bambang juga menyoroti tantangan teknis dan psikologis yang dihadapi siswa dalam masa transisi dari media kertas ke layar digital. Menurutnya, sistem kertas memiliki kelebihan tersendiri dalam memberikan keleluasaan bagi siswa saat mengerjakan soal.
“Sisi negatif dari digital itu kalau di sistem atau prosesnya ada kendala teknis, seperti jaringan terganggu, maka selesai sudah, tidak bisa jalan. Padahal kalau menggunakan kertas, siswa masih bisa mengulang, membaca kembali, bahkan mencoret-coret langsung kertas ujian untuk menandai mana hal yang kurang atau soal mana yang membingungkan. Pada sistem digital kita tidak bisa melakukan itu secara langsung, harus pakai kertas coretan lain,” tambahnya secara detail.

Guna mengantisipasi kendala teknis jaringan yang dikhawatirkan tersebut, Waka Kurikulum SMK Models, Suwono, S.Pd., menjelaskan bahwa pihak sekolah telah melakukan langkah mitigasi dengan membagi pelaksanaan ujian ke dalam dua sesi harian. Pembagian ini bertujuan menjaga stabilitas jaringan server Pintar.id agar tidak kelebihan beban ( overload ).
Sesi pertama dialokasikan khusus untuk seluruh siswa kelas X pada pagi hari pukul 07.00 WIB hingga 09.00 WIB. Setelah jeda untuk memastikan jaringan aman dan ruang kelas kondusif, ujian dilanjutkan ke sesi kedua untuk siswa kelas XI yang dimulai pada pukul 09.30 WIB hingga 11.45 WIB. Pembagian ini terbukti ampuh mengurai kepadatan lalu lintas data dan menjaga kenyamanan psikologis siswa selama ujian berlangsung.
Kendati manajemen sesi telah diatur matang, Suwono tidak menampik adanya kendala riil yang dihadapi siswa di lapangan. Ia mengungkapkan, beberapa siswa kedapatan kurang siap secara teknis mandiri, seperti tidak menyiapkan paket data internet. Selain itu, ketatnya sistem lockdown browser terbukti berhasil mendeteksi pelanggaran integritas akibat ketidakpatuhan siswa terhadap regulasi web ujian.
“Ini adalah kali kedua kami menggunakan sistem ujian digitalisasi. Dalam pelaksanaannya, kami menemui beberapa kendala lapangan, seperti siswa yang tidak menyiapkan paket data. Selain itu, terkait kepatuhan terhadap web ujian, sistem mencatat adanya siswa yang terindikasi melakukan kecurangan karena mencoba keluar dari sistem proteksi. Untuk itu, saya meminta anak-anak agar ke depannya lebih mempersiapkan diri dengan matang, baik secara teknis maupun mentalitas,” ungkap Suwono tegas.
Menutup rangkaian monitoring tersebut, Pak Bambang kembali menegaskan bahwa digitalisasi adalah arus perubahan yang tidak bisa dihindari. Kunci keberhasilannya terletak pada adaptasi, kesiapan Sumber Daya Manusia (SDM), serta sinergi kolektif dari seluruh ekosistem sekolah.
“Semuanya harus siap. Kalau kita tidak bisa mengikuti perubahan ini, ya kita akan ketinggalan. Kita terus belajar saja, tidak apa-apa, pasti nanti akan menemukan kesempurnaan. Pertanyaannya sekarang: kalau ujian menggunakan digital, sekolah harus bagaimana? Guru harus bagaimana? Pengawas bagaimana? Dan yang terpenting, siswa harus bagaimana? Ini semua yang harus disiapkan bersama,” tegas Pak Bambang secara visioner.
Melalui momentum PAT berbasis lockdown browser ini, SMK Models tidak hanya sekadar melaksanakan evaluasi akademik akhir tahun, melainkan sedang menjawab tantangan besar tersebut membuktikan kesiapan infrastruktur, kompetensi guru, serta mentalitas siswa dalam menyambut masa depan pendidikan yang serba digital.
Pimred: Saskia
Reporter : Arista
Editor: Hilda
Fotografer: SMK Models
Layouter: Revaldo





Leave a Reply