Jurnalis SMK Muhammadiyah 8 Siliragung

Inovatif & Informatif

Lentera Padam di Sudut Sunyi

Ilustrasi
Ilustrasi
Di dalam kamar berukuran tiga kali tiga meter, Bulan adalah seorang arsitek semesta. Menggunakan pensil-pensil tumpulnya, ia melukis cetak biru gedung pencakar langit yang mampu menyentuh awan, menciptakan rasi bintang baru di atas kertas-kertas loak. Namun, begitu langkah kaki berat terdengar dari ruang tamu, megahnya dunia imajinasi itu runtuh seketika. "Jadilah seperti batu, Bulan! Keras, diam, tak usah banyak gaya dengan mimpi-mimpi konyolmu!" guntur suara ayahnya selalu berhasil meretakkan dinding kamarnya. Sementara ibunya hanya berdiri di ambang pintu bagai gerbang besi yang terkunci rapat; bungkam, menelan semua pembelaan untuk anaknya bersama doa-doa yang terdengar pasrah dan tersesat.

Malam ini, dada Bulan sesak oleh takdir ganjil yang mengungkungnya. Ia memegang sebatang korek api di tangan kanan, sebuah keberanian kecil yang berhasil ia kumpulkan dari sisa-sisa harga diri. Di sudut meja, sebuah lentera tua peninggalan kakeknya sudah siap dinyalakan; wadahnya adalah sisa-sisa harapan, dan minyaknya adalah air mata yang tertahan sejak masa kanak-kanak. Bulan hanya ingin menyalakan satu cahaya kecil, membuktikan pada gelapnya rumah ini bahwa ia bukan sekadar debu yang dilarang melawan. Dengan tangan bergetar, ia menggesekkan korek api, bersiap membakar sumbu yang kering.

Creeek! Belum sempat kilatan api mencium sumbu tersebut, sebuah bentakan kasar menggelegar dari balik pintu, disusul suara hantaman keras ke meja makan. Kejutan itu membuat dunia Bulan miring seketika, menghentakkan napas ketakutannya hingga mengembus mati percikan api yang baru saja lahir. Korek itu jatuh ke lantai, padam total sebelum sempat melahirkan bayangan di dinding. Bulan akhirnya mundur, duduk bersila di sudut kamar yang paling sunyi, menatap lenteranya yang kini membeku menjadi rongsokan mimpi. Ia tahu ia mampu menerangi malamnya sendiri, namun malam ini ia menyerah, tenggelam oleh tangan-tangan orang tua yang teramat dicintainya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *