Di sebuah hutan yang indah, setiap fajar selalu dipenuhi dengan nyanyian para burung. Di sanalah hidup seekor burung jantan yang selalu diam meratapi keadaan. Ia tidak berani bersuara dan hanya terus bergumam.
Dia sebenarnya mampu, hanya saja terlalu malu untuk ikut mempertunjukkan suaranya. Setiap kali membuka paruh, ia merasa suaranya terlalu aneh, terlalu pelan, dan terlalu berbeda. Dengan keyakinan itu, dia terus bersembunyi dalam kabut hutan, berpikir bahwa lebih baik diam daripada ditertawakan oleh hutan.
Pagi yang suram terus dia lalui di balik rimbunnya daun, menyaksikan burung-burung lain bernyanyi memenuhi udara. Ada yang bernada tinggi, ada yang serak, ada pula yang sederhana. Anehnya, mereka semua tetap menemukan pasangan yang datang menghampiri.
Musim demi musim berganti.
Daun-daun gugur, tumbuh, lalu gugur lagi. Sarang-sarang baru mulai bermunculan di setiap dahan, memenuhi pohon yang dia tinggali. Kini, tersisa hanya dia yang sendiri, memendam lagu yang tak pernah didengar oleh siapa pun.
Suatu pagi, angin bertiup lebih lembut dari biasanya. Entah karena lelah oleh kesunyian yang menyiksa, atau karena akhirnya ia mulai menerima dirinya sendiri, si burung jantan menutup mata dan membiarkan suara yang selama ini dipendam mengalir begitu saja.
Nyanyiannya memang tidak semerdu burung-burung lain.
Namun, ia tidak berhenti.
Nada demi nada memenuhi sudut hutan untuk pertama kalinya.
Takama kemudian, dari kejauhan terdengar suara balasan.
Seekor burung betina hinggap di dahan seberang. Ia membalas nyanyian itu, lalu tersenyum seolah baru saja menemukan seorang pahlawan.
"Akhirnya aku menemukanmu," katanya, "Suara yang selama ini aku cari."
Burung jantan terdiam.
Selama ini ia mengira suaranya hanya akan dicela. Namun nyatanya, yang datang justru keindahan yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya. Meskipun terlambat, akhirnya dia menyadari: suaranya tidak pernah bermasalah. Yang bermasalah adalah pikirannya sendiri, yang membiarkan lagu indahnya terus-menerus dipendam.
Hutan tidak pernah menuntut setiap burung memiliki nyanyian yang sama. Hutan hanya meminta mereka bernyanyi, mengisi kekosongan rimbunnya alam dengan berbagai melodi yang beragam.
Cerita seperti ini sering kali terjadi di dunia nyata, terutama pada makhluk yang katanya paling sempurna, namun kerap memiliki seribu cara untuk menyembunyikan rasa: manusia. Makhluk yang dianugerahi berbagai cara untuk mengungkapkan perasaan, tetapi sering kali memilih diam dan menatap dalam kekosongan.
Manusia mungkin punya seni, musik, dan untaian kata untuk mengungkapkan apa yang ada di dalam dada. Namun jauh sebelum semua itu ada, alam sudah lebih dulu mengajarkan satu hal: untuk dicintai, kamu harus berani memperlihatkan siapa dirimu, dengan cara apa pun yang kamu punya.
Kita sering kali menyembunyikan perasaan atau berpura-pura menjadi orang lain hanya karena takut ditolak. Namun, alam mengingatkan kita pada satu aturan dasar yang konstan: kamu tidak akan pernah bisa ditemukan oleh orang yang tepat, jika kamu terus-menerus memilih untuk bersembunyi.
Leave a Reply