Seorang anak perempuan yang kini beranjak SMK tengah bergelut hebat dengan isi hati dan pikirannya sendiri. Langkah kakinya terasa berat karena ia sadar betul betapa sulitnya kedua orang tua mereka mencari nafkah. Ditambah lagi, sang ayah kini tengah sakit-sakitan, bahkan biaya sekolahnya pun tak jarang harus ditopang oleh kakak laki-lakinya. Saban kali menginginkan sesuatu, ia tahu diri, ia harus menahan perih dan sabar menyisihkan uang sakunya sedikit demi sedikit.
Hingga suatu hari datang dalam bentuk pertengkaran dengan sang ibu.
Sepanjang jam pelajaran hingga bel pulang berbunyi, pikirannya kacau balau. Berbagai kecamuk yang tak kasatmata berkumpul di kepalanya. Begitu menginjakkan kaki di rumah, ia langsung berlari masuk ke dalam kamar, menumpahkan segala sesak yang sejak tadi ditahannya. Di atas kasur, ia memeluk erat sebuah guling—satu-satunya teman setia yang menyaksikan air matanya jatuh. Di sanalah, dalam keheningan kamar, ia menangis terisak-isak.
Hati seorang anak perempuan memang kerap kali begitu sensitif. Mendengar ucapan orang lain yang sekadar menyinggung perasaan saja sudah mampu mengoyak hatinya, apalagi ketika kata-kata menyakitkan itu terang-terangan ditujukan langsung kepadanya. Kata-kata itu rasanya seperti duri. Bahkan, ketika badai sudah mereda dan ia kembali mengingat ucapan tersebut, luka itu terbuka lagi, dan ia pun kembali menangis tersedu-sedu.
Leave a Reply