Jurnalis SMK Muhammadiyah 8 Siliragung

Inovatif & Informatif

Literasi Menjadi Bukti Dedikasi, Guru SMK Models Raih Juara 1 Lomba Menulis Artikel PDNA Banyuwangi

Cici Arista Devi, S.Pd.,
Juara 1 Lomba Menulis Artikel Cici Arista Devi, S.Pd.,

Models Jurnalisme, 15 Juli 2026 – SMK Muhammadiyah 8 Siliragung (SMK Models), Banyuwangi, Jawa Timur, kembali menunjukkan eksistensinya sebagai sekolah yang tidak hanya unggul dalam bidang pendidikan vokasi, tetapi juga aktif melahirkan prestasi di bidang literasi. Hal tersebut dibuktikan dengan keberhasilan Cici Arista Devi, S.Pd., salah satu guru SMK Models, sekaligus kader Nasyiatul Aisyiyah Siliragung ini berhasil meraih Juara 1 Lomba Menulis Artikel bertema “Nyala Kartini Muda: dari Nasyiatul Aisyiyah untuk Indonesia” dalam rangka memperingati Hari Kartini dan Milad Nasyiatul Aisyiyah ke-95 yang diselenggarakan oleh Pimpinan Daerah Nasyiatul Aisyiyah (PDNA) Banyuwangi. Lomba tersebut diumumkan pada Selasa, (21/4/2026).

Kompetisi yang diikuti kader Nasyiatul Aisyiyah se-Kabupaten Banyuwangi tersebut menjadi wadah bagi perempuan muda untuk menuangkan gagasan progresif, kreatif, dan kritis melalui karya tulis. Peserta diwajibkan menulis artikel sepanjang 800–1.500 kata dengan mengangkat salah satu subtema yang telah ditentukan. Penilaian dilakukan berdasarkan kesesuaian dengan tema (30%), kedalaman isi dan gagasan (25%), gaya bahasa dan kreativitas (25%), serta struktur penulisan dan ejaan (20%).

Keberhasilan Cici Arista Devi diraih melalui artikel berjudul “Dapur, Gendongan, dan Nasyiah :Seni Sodaqoh Waktu Perempuan Berkemajuan”. Tulisan tersebut mengangkat realitas perempuan yang kerap menghadapi beban ganda, yakni menjalankan peran dalam keluarga, karier, sekaligus organisasi. Melalui artikelnya, Cici ingin menyampaikan bahwa perempuan tidak seharusnya dipandang hanya sebagai kanca wingking atau sebatas menjalankan konsep macak, masak, dan manak, melainkan juga memiliki kemampuan untuk berkarya, memimpin, serta memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat.

Menurutnya, perempuan mampu mengorelasikan berbagai peran dalam kehidupan, mulai dari urusan domestik, keluarga, pekerjaan, hingga organisasi. Bahkan, ia menilai perempuan memiliki kemampuan luar biasa dalam membagi waktu dan menjalankan tanggung jawab secara seimbang apabila mendapat dukungan dari lingkungan sekitarnya.

Foto Bersama Para Juara
Foto Bersama Para Juara

“Lewat tulisan itu saya ingin membuka mata para pembaca bahwa hargailah seorang perempuan. Perempuan mampu menyeimbangkan urusan domestik, keluarga, karier, dan organisasi,” ujar Cici.

Inspirasi penulisan artikel tersebut berasal dari pengalaman pribadi dan berbagai fenomena yang ditemuinya di lingkungan sekitar. Ia melihat masih banyak stigma yang menganggap perempuan tidak perlu menempuh pendidikan tinggi atau berkarier karena pada akhirnya akan kembali mengurus rumah tangga. Pandangan itulah yang mendorongnya untuk menyuarakan bahwa perempuan memiliki hak yang sama untuk belajar, berkarya, dan berorganisasi tanpa mengabaikan perannya dalam keluarga.

Selain itu, Cici mengungkapkan bahwa penulis Laksmi Pamuntjak menjadi salah satu sosok yang menginspirasinya dalam dunia kepenulisan. Ia juga mengaku tidak melakukan persiapan khusus dalam mengikuti lomba tersebut. Proses penulisan dilakukan secara mengalir hingga akhirnya dikirim sesuai jadwal yang ditentukan panitia. Bahkan, ia tidak menyangka tulisannya berhasil meraih peringkat pertama.

Ketua PDNA Banyuwangi, Roudhotul Jannah, M.Pd.I, menjelaskan bahwa penyelenggaraan lomba tersebut dilatarbelakangi semangat memperingati Hari Kartini sekaligus Milad Nasyiatul Aisyiyah ke-95. Kedua momentum tersebut memiliki akar yang sama, yakni gerakan emansipasi, pendidikan, dan pemberdayaan perempuan di Indonesia.

Foto Bersama Bapak Pengawas Wali dan Kepala SMK Models.
Foto Bersama Bapak Pengawas Wali dan Kepala SMK Models.

Menurutnya, pemikiran Raden Ajeng Kartini tentang pentingnya pendidikan bagi perempuan masih sangat relevan hingga saat ini. Sementara itu, Nasyiatul Aisyiyah sebagai organisasi otonom Muhammadiyah terus berupaya mencetak kader perempuan muda yang tangguh, berilmu, dan berakhlak mulia. Melalui lomba ini, perempuan muda didorong menjadi agen perubahan yang mampu menghadirkan solusi atas berbagai persoalan sosial melalui ide, kreativitas, dan pemikiran kritis.

Selain menjadi ajang kompetisi, lomba tersebut juga bertujuan menghidupkan kembali budaya literasi atau tradisi Iqra yang menjadi fondasi gerakan Muhammadiyah, sekaligus meneladani perjuangan Kartini yang menyampaikan gagasan melalui tulisan.

Salah satu dewan juri, Elok Rosyidah, S.E., M.M, menjelaskan bahwa kekuatan gagasan menjadi aspek utama dalam menentukan karya terbaik. Menurutnya, istilah “Nyala Kartini Muda” dipilih untuk merepresentasikan semangat perempuan muda yang terus belajar, berkarya, memimpin, dan memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat. Nilai-nilai perjuangan Kartini diwujudkan melalui penguatan pendidikan, kepemimpinan perempuan, kepedulian sosial, pemberdayaan ekonomi, serta pembangunan bangsa yang berkeadilan dan berkemajuan.

Proses penjurian dilakukan secara anonim. Seluruh karya diterima tanpa mencantumkan identitas penulis sehingga penilaian sepenuhnya berpedoman pada kesesuaian tema, orisinalitas gagasan, dan indikator penilaian yang telah ditetapkan panitia. Mekanisme tersebut diterapkan untuk menjaga objektivitas selama proses seleksi.

Cici Arista Devi, S.Pd.,
Cici Arista Devi, S.Pd.,

“Dalam proses penilaian kami menerima seluruh tulisan tanpa mengetahui identitas penulis. Setiap karya dinilai berdasarkan kesesuaian tema, orisinalitas gagasan, and indikator penilaian sehingga objektivitas tetap terjaga,” jelas Elok Rosyidah.

Ia juga mengapresiasi seluruh peserta yang telah menuangkan ide dan pemikirannya melalui karya tulis. Menurutnya, setiap tulisan memiliki sudut pandang yang menarik meskipun beberapa masih memerlukan pendalaman isi. Ia berharap budaya menulis tidak berhenti pada ajang perlombaan, tetapi terus tumbuh menjadi budaya literasi yang berkelanjutan.

Prestasi yang diraih Cici Arista Devi menjadi bukti bahwa budaya literasi di lingkungan SMK Models terus berkembang. Keberhasilan tersebut tidak hanya mengharumkan nama sekolah, tetapi juga menjadi motivasi bagi guru maupun peserta didik untuk terus berkarya melalui tulisan, mengembangkan budaya literasi, serta berkontribusi bagi dunia pendidikan dan masyarakat.

PLT Pimred: Pundi
Reporter: Chelsy, Lutfi
Editor: Chelsy
Fotografer:
Layout:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *