Di sudut sore, aku menemukan namamu di sela cahaya jendela yang perlahan menjadi senja.
Tak semua yang pergi benar-benar hilang, sebagian berubah menjadi kenangan yang diam-diam tinggal di hal kecil: hujan, lagu, dan jalan yang pernah kita lewati.
Aku bertanya pada angin, mengapa ia selalu kembali setelah pergi.
Ia tak menjawab.
Mungkin memang tidak semua rindu perlu pulang, dan tidak semua kehilangan perlu alasan.
Malam datang membawa bintang, tapi tak satu pun menyerupai tatapanmu dulu.
Dan aku mengerti, kehilangan bukan tentang orang yang pergi, melainkan tentang dunia yang tiba-tiba terasa berbeda setelah ia tak ada.
Maka biarlah namamu tetap tinggal sebagai sunyi yang tidak ingin kuusir.
Karena pernah ada seseorang yang membuat waktu terasa terlalu singkat untuk dilupakan
Leave a Reply