Di rumah yang dulu penuh tawa, kini hanya sunyi yang menyapa. Dinding-dinding masih menyimpan cerita, tentang kita yang pernah bersama.
Aku rindu suara di ruang keluarga, rindu tegur sapa yang sederhana, rindu duduk bersama di meja makan, tanpa ada jarak yang memisahkan.
Waktu membawa kita ke arah berbeda, membuat yang dekat terasa jauh. Ada kata yang belum sempat terucap, ada peluk yang tertahan oleh waktu.
Setiap kali malam datang, aku menatap langit dalam diam. Menyebut nama-nama yang kurindukan, berharap semuanya kembali seperti dulu.
Namun, tak semua rindu menemukan jalan, tak semua hati bisa kembali ke rumah. Kadang, pulang bukan tentang langkah, melainkan tentang kenangan yang tersisa.
Jika suatu hari kita kembali bertemu, aku ingin memeluk tanpa banyak kata. Sebab ada rindu yang terlalu lama disimpan, hingga air mata menjadi satu-satunya bahasa.
Dan jika pulang ternyata tak lagi mungkin, biarlah kenangan menjadi tempatku kembali. Sebab meski rumah tak lagi sama, kalian tetap menjadi rumah di dalam hati.
Leave a Reply