Jurnalis SMK Muhammadiyah 8 Siliragung

Inovatif & Informatif

10 Amalan Sunah Hari Raya IdulAdha, Sederhana Namun Sarat Makna

Beribadah
Beribadah

Menjelang Hari Raya Iduladha, vibes ibadah jadi makin terasa
Bulan Dzulhijjah bukan cuma tentang kurban dan hari raya, tapi juga jadi momen terbaik buat upgrade diri, memperbanyak pahala, dan mendekatkan hati kepada Allah. Pada 10 hari pertama Dzulhijjah, ada banyak sunnah yang bisa dilakukan, mulai dari memperbanyak takbir, puasa Arafah, sampai menjaga amal dan silaturahmi. Meski terlihat sederhana, amalan-amalan ini punya keutamaan besar dan jadi kesempatan emas yang sayang banget kalau dilewatkan. Yuk, sambut Hari Raya Iduladha dengan hati yang lebih siap, ibadah yang lebih maksimal, dan semangat kebaikan yang makin penuh cinta, simak juga apa saja amalan sunahnya!

1. Menghidupkan Malam Iduladha dengan Takbiran
Mengumandangkan takbir, tahmid, dan tahlil sejak tenggelamnya matahari pada malam 10 Zulhijah hingga hari tasyrik terakhir (13 Zulhijah) setelah salat asar. Takbiran ini merupakan wujud syukur dan syiar Islam.

Dari Umar radhiyallahu ‘anhu, bahwa beliau dahulu bertakbir di kubahnya di Mina, lalu orang-orang di masjid mendengarnya, mereka pun ikut bertakbir dan orang-orang di pasar juga ikut bertakbir, hingga kota Mina bergemuruh dengan takbir. (HR. Bukhari secara mu’allaq).

2. Mandi Sebelum Berangkat Salat Id
Disunahkan untuk mandi besar (membersihkan seluruh anggota tubuh) sebelum berangkat ke tempat salat Iduladha. Tujuannya agar tubuh bersih, segar, dan bebas dari bau tidak sedap saat berkumpul dengan jamaah lain.

Dari Nafi’, ia berkata: “Bahwa Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma biasa mandi di hari Idulfitri sebelum ia berangkat ke lapangan.” (HR. Malik dalam Al-Muwatta`, dengan sanad yang sahih. Imam Nawawi menyatakan bahwa para ulama sepakat kesunahan mandi ini juga berlaku untuk Iduladha).

3. Memakai Pakaian Terbaik dan Berwangi-wangian
Kaum muslimin dianjurkan memakai pakaian terbaik yang mereka miliki (tidak harus baru, yang penting bersih dan rapi). Khusus untuk laki-laki, disunahkan memakai wangi-wangian atau parfum.

Dari Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata: “Umar mengambil sebuah jubah sutra yang dijual di pasar, lalu ia membawanya kepada Rasulullah SAW dan berkata: ‘Wahai Rasulullah, belilah jubah ini dan berhiaslah dengannya untuk hari raya dan menyambut tamu…’” (HR. Bukhari). (Hadis ini menunjukkan bahwa berhias di hari raya adalah kebiasaan yang sudah diakui oleh Rasulullah SAW).

4. Tidak Makan Sebelum Salat Iduladha
Berbeda dengan Idulfitri yang disunahkan makan kurma terlebih dahulu, pada Iduladha disunahkan untuk tidak makan sejak terbit fajar sampai selesai menunaikan salat Id.
Hikmahnya adalah agar makanan pertama yang menyentuh lidah kita di hari itu adalah daging hewan kurban setelah selesai disembelih.

Dari Abdullah bin Buraidah, dari ayahnya, ia berkata: “Rasulullah SAW tidak keluar pada hari Idulfitri sebelum makan, dan beliau tidak makan pada hari Iduladha sampai beliau kembali (dari salat Id), lalu beliau makan dari daging sembelihan kurbannya.” (HR. Ahmad dan Tirmidzi; disahihkan oleh Al-Albani).

5. Berjalan Kaki Menuju Tempat Salat
Jika jaraknya memungkinkan dan tidak ada uzur (seperti sakit atau hujan), berjalan kaki menuju tempat salat Id lebih utama daripada berkendara. Setiap langkah kaki dinilai sebagai pahala.

Dari Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: “Termasuk sunah adalah keluar menuju salat Id dengan berjalan kaki.” (HR. Tirmidzi, ia mengatakan hadis ini hasan).

6. Salat Id di Lapangan Terbuka
Sesuai dengan kebiasaan (sunah rasul) yang selalu ditegaskan dalam warga Muhammadiyah, salat Id sebaiknya dilaksanakan di lapangan terbuka, kecuali jika ada uzur syar’i seperti hujan lebat atau lapangan yang becek.

Dari Abu Sa’id Al-Khudri radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: “Rasulullah SAW biasa keluar pada hari Idulfitri dan Iduladha menuju lapangan (mushalla). Maka hal pertama yang beliau lakukan adalah melaksanakan salat.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Membawa Hewan Kurban
Menyiapkan Hewan Kurban

7. Mengajak Seluruh Anggota Keluarga (Termasuk Wanita Haid)
Nabi SAW memerintahkan untuk mengajak seluruh kaum muslimin, termasuk anak-anak, remaja, bahkan wanita yang sedang haid atau nifas untuk hadir ke lapangan. Bagi wanita yang haid, mereka cukup duduk di belakang menyaksikan syiar Islam dan mendengarkan khotbah tanpa ikut salat.

Dari Ummu ‘Athiyyah radhiyallahu ‘anha, ia berkata: “Kami diperintahkan untuk mengajak keluar gadis-gadis remaja dan wanita-wanita yang sedang haid pada dua hari raya, agar mereka dapat menyaksikan kebaikan dan dakwah kaum muslimin. Dan wanita-wanita yang haid agar menjauh dari tempat salat.” (HR. Bukhari dan Muslim).

8. Membedakan Jalan Berangkat dan Jalan Pulang
Disunahkan mengambil rute jalan yang berbeda saat berangkat menuju tempat salat dengan saat pulang kembali ke rumah. Tujuannya adalah untuk memperbanyak silaturahmi dengan warga sekitar dan menyebarkan syiar Islam di sepanjang jalan.

Dari Jabir bin Abdullah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: “Nabi SAW jika berada di hari raya, beliau membedakan jalan (antara berangkat dan pulang).” (HR. Bukhari).

9. Mendengarkan Khotbah Iduladha
Setelah salat Id selesai, jamaah sangat dianjurkan untuk tidak langsung bubar, melainkan tetap duduk tenang mendengarkan khotbah yang disampaikan oleh khatib hingga selesai.

Dari Abdullah bin As-Sa’ib radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: “Aku menghadiri salat Id bersama Nabi SAW. Ketika beliau selesai menunaikan salat, beliau bersabda: ‘Sesungguhnya kami akan berkhotbah. Barang siapa yang ingin tetap duduk mendengarkan khotbah, silakan duduk. Dan barang siapa yang ingin pergi, silakan pergi.’” (HR. Abu Dawud dan An-Nasa’i; disahihkan oleh Al-Albani).

10. Menyembelih dan Menikmati Daging Kurban Sendiri
Bagi yang mampu berkurban, disunahkan untuk menyembelih hewan kurbannya sendiri (atau menyaksikannya jika diwakilkan). Setelah itu, disunahkan pula bagi orang yang berkurban untuk memakan sebagian dari daging kurbannya tersebut sebagai bentuk rasa syukur.

Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: “Nabi SAW berkurban dengan dua ekor domba jantan yang berwarna putih bercampur hitam dan bertanduk. Beliau menyembelih keduanya dengan tangan beliau sendiri, beliau membaca basmalah dan bertakbir, dan beliau meletakkan kaki beliau di atas leher domba tersebut.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Dan terkait memakan dagingnya, Allah berfirman dalam Al-Qur’an: “…Maka makanlah sebagian darinya dan (sebagian lagi) berikanlah untuk dimakan orang-orang yang sengsara dan fakir.” (QS. Al-Hajj: 28).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *