Aku tak menemukan sekolah di bangunan tinggi berderet jendela, melainkan di kepalaku sendiri— tempat tanya tumbuh seperti lumut di batu yang lama diam.
Di sana, guru bukan hanya manusia, melainkan angin yang membalik halaman, bayangan yang diam-diam mengajari arti terang, dan kesalahan yang duduk paling depan tanpa pernah diusir.
Papan tulisnya adalah langit, kapurnya awan yang mudah hilang, setiap coretan tak pernah tetap— sebab ilmu tak suka dibekukan dalam satu jawaban.
Aku belajar dari jatuh yang berulang, dari diam yang panjang, dari kata “tidak tahu” yang justru membuka pintu ke seribu kemungkinan baru.
Tak ada bel pulang di sini, tak ada ujian yang selesai sekali, karena pendidikan adalah perjalanan sunyi yang terus berjalan meski kaki kita berhenti.
Dan ketika dunia bertanya, “Di mana sekolahmu?” aku hanya tersenyum pelan— sebab ia tumbuh diam-diam, hidup, di dalam kepalaku sendiri.
Leave a Reply