Jurnalis SMK Muhammadiyah 8 Siliragung

Inovatif & Informatif

Satu nama, Satu harapan

Membaca Buku
Ilustrasi
Di ruang yang sunyi, aku belajar dewasa
Tak ada tangan yang menggenggam saat lelah melanda
Tak ada bahu tempat bersandar saat dunia terasa berat
Hanya ada aku, dan bayanganku sendiri yang setia

Segala hal harus kupecahkan dengan logika sendiri
Menangis pun harus dalam diam, agar tak terdengar
Sakit pun harus ku tahan, jatuh pun harus bangkit sendiri
Karena sadar betul, tak ada saudara yang bisa kuandalkan

Tapi bukan itu yang paling menyayat hati
Melainkan saat kulihat wajah Ayah dan Ibu
Yang menatapku dengan penuh harap dan doa
Matanya berkata: "Kaulah satu-satunya masa depan kami"

Oh Tuhan, betapa berat beban ini terasa
Satu nama ini, satu harapan yang tak boleh gagal
Jika aku runtuh, siapa lagi yang akan mereka banggakan?
Jika aku lemah, siapa lagi tempat mereka bersandar nanti?

Aku tak boleh egois untuk sekadar menyerah
Meski kadang jiwa ini rapuh dan ingin berteriak
Aku harus kuat, aku harus menjadi yang terhebat
Karena seluruh mimpi mereka, tertumpah hanya di pundakku

Maafkan aku jika kadang terlihat tegar di luar
Padahal dalam hati sering bertanya "sampai kapan?"
Tapi demi melihat senyum bahagia di wajah mereka
Akan ku jalani semua, meski harus sendirian selamanya

Karena aku tahu...
Aku adalah satu-satunya cahaya yang mereka punya
Satu nama yang harus bersinar, satu harapan yang tak boleh mati
Aku harus sukses, demi mereka, demi cinta yang tak terhingga.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *