Di ruang yang sunyi, aku belajar dewasa Tak ada tangan yang menggenggam saat lelah melanda Tak ada bahu tempat bersandar saat dunia terasa berat Hanya ada aku, dan bayanganku sendiri yang setia
Segala hal harus kupecahkan dengan logika sendiri Menangis pun harus dalam diam, agar tak terdengar Sakit pun harus ku tahan, jatuh pun harus bangkit sendiri Karena sadar betul, tak ada saudara yang bisa kuandalkan
Tapi bukan itu yang paling menyayat hati Melainkan saat kulihat wajah Ayah dan Ibu Yang menatapku dengan penuh harap dan doa Matanya berkata: "Kaulah satu-satunya masa depan kami"
Oh Tuhan, betapa berat beban ini terasa Satu nama ini, satu harapan yang tak boleh gagal Jika aku runtuh, siapa lagi yang akan mereka banggakan? Jika aku lemah, siapa lagi tempat mereka bersandar nanti?
Aku tak boleh egois untuk sekadar menyerah Meski kadang jiwa ini rapuh dan ingin berteriak Aku harus kuat, aku harus menjadi yang terhebat Karena seluruh mimpi mereka, tertumpah hanya di pundakku
Maafkan aku jika kadang terlihat tegar di luar Padahal dalam hati sering bertanya "sampai kapan?" Tapi demi melihat senyum bahagia di wajah mereka Akan ku jalani semua, meski harus sendirian selamanya
Karena aku tahu... Aku adalah satu-satunya cahaya yang mereka punya Satu nama yang harus bersinar, satu harapan yang tak boleh mati Aku harus sukses, demi mereka, demi cinta yang tak terhingga.
Leave a Reply