Jurnalis SMK Muhammadiyah 8 Siliragung

Inovatif & Informatif

Atas Nama Hidup

Berjalan Kegelapan
Ilustrasi
Aku lahir di sebuah dunia yang telah tertata rapi, dengan berbagai norma yang melekat di dalamnya. Sejak kecil aku diajarkan bahwa keberhasilan adalah ketika seseorang memiliki pekerjaan yang mapan, pasangan ideal, rumah yang layak, dan keluarga harmonis. Seolah-olah itulah tujuan yang harus dikejar oleh setiap manusia.

Namun, jika memang semua itu telah ditentukan sejak awal, lalu apa arti hidup ini? Bukankah begitu membosankan jika setiap orang berjalan menuju tujuan yang sama? Apakah benar tidak ada satu pun pilihan yang benar-benar bisa kupilih sebebas-bebasnya?

Dunia ini seakan memberiku kebebasan untuk memilih. Namun, semakin lama aku menyadari bahwa kebebasan itu hanyalah ilusi—sebuah kebohongan yang dibalut kata-kata indah agar aku percaya bahwa jalan hidup ini benar-benar berada di tanganku.

Mereka berkata bahwa setiap manusia selalu memiliki pilihan dalam menjalani hidupnya. Namun, benarkah itu sebuah pilihan jika setiap jalan telah dibatasi oleh keadaan?

Bayangkan jika kamu lahir di keluarga pebisnis yang kaya raya. Sejak awal, mungkin kamu telah dipersiapkan untuk meneruskan usaha keluarga. Ketika suatu hari kamu berkata ingin menjadi nelayan karena itulah yang membuatmu bahagia, akankah pilihan itu benar-benar diterima? Atau justru dipandang sebagai bentuk kegagalan?

Sebaliknya, jika kamu lahir di keluarga yang hidup dalam keterbatasan, harapan akan diletakkan di pundakmu. Kamu akan didorong—atau bahkan dipaksa—untuk mengejar pekerjaan yang mampu mengubah keadaan keluarga, meskipun itu berarti mengubur impianmu sendiri.

Lalu, apakah semua itu masih pantas disebut pilihan?

Mungkin sejak awal kita memang tidak sedang memilih. Kita hanya memilih di antara jalan-jalan yang telah digambar oleh keadaan, keluarga, dan harapan orang lain.

Jika keberhasilan adalah ketika seseorang menghabiskan siang dan malam untuk mengejar sesuatu yang bahkan bukan keinginannya sendiri, sementara pikirannya terus hidup dalam belenggu, maka aku lebih memilih menjadi orang yang mereka sebut gagal, tetapi mampu menikmati hidup dengan caraku sendiri.

Karena bagiku, kehidupan ini bukanlah panggung untuk memenuhi harapan orang lain. Ini adalah hidupku, dan hanya aku yang berhak menentukan ke mana setiap langkah akan menuju. Sebab, tidak ada seorang pun yang akan menjalani hidup ini selain diriku sendiri.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *