
Kadang kusimpan duri kecil di dada rapuh,
Membenci ayah atas mimpi fana yang ia kejar.
Nilai sempurna, trofi gemilang yang ia puja,
Padahal senyumku retak, jiwa perlahan hancur.
Segala yang ia desak hanyalah bayang embun,
Sirna sebelum sempat kucicipi hangatnya pagi.
Aku terjebak dalam jerat harapan yang dingin,
Luka batin tumbuh, tak pernah ia lihat.
Aku berjalan dalam sunyi yang menyesakkan,
Setiap langkah terasa seperti bayang luka.
Harapan ayah menjelma tembok tak berjiwa,
Mengurungku dalam sepi yang tak pernah ia dengar.
Namun di balik segala perih yang membekas,
Ayah tetap pahlawan dalam hidupku.
Ia baik, ia hadir dengan kasih yang nyata,
Meski bayangan bisu kadang melukai jiwa.




Leave a Reply