Jurnalis SMK Muhammadiyah 8 Siliragung

Inovatif & Informatif

Dua Cangkir Kopi dan Ingatan yang Kabur

Dua Cangkir Kopi
Ilustrasi
Di sudut ruang tamu yang temaram, Pak Karta duduk mematung menatap bingkai foto tua yang warnanya telah menguning dimakan usia. Di sana, seorang wanita dengan kebaya kutubaru tampak tersenyum lebar, jemarinya menggenggam erat lengan Pak Karta. Sudah sepuluh tahun kursi kayu di hadapannya kosong, namun setiap sore, pria itu selalu menyeduhkan dua cangkir kopi tubruk. Satu untuk dirinya, satu lagi untuk istrinya yang telah lama berpulang.

​Aroma kopi yang pekat menguar, mengisi kesunyian rumah yang terasa begitu hampa. Pak Karta menyesap kopinya perlahan, lalu menatap kursi kosong itu dengan sorot mata yang redup, menyimpan kerinduan yang teramat dalam. Ia sering berbicara sendiri, menceritakan kejadian-kejadian kecil di desa atau keluhan tentang nyeri sendinya, seolah sosok itu masih duduk di sana, mendengarkan dengan penuh perhatian.

​"Tahun ini musim kemarau lebih panjang, Bu," bisiknya lirih, suaranya parau tertelan sepi. Ia menanti jawaban yang tak pernah datang, hanya derit pintu kayu tua yang terbawa angin senja yang menjadi teman setianya.

​Tiba-tiba, dering ponsel dari saku celana panjangnya memecah suasana. Pak Karta mengeluarkan benda pipih itu dengan tangan gemetar. Sebuah pesan singkat masuk dari nomor yang tak ia simpan.

​“Ayah, maaf baru bisa mengabari. Operasi Ibu kemarin berhasil. Lusa kami pulang ke desa.”

​Pak Karta tertegun, ponselnya nyaris terlepas dari genggaman. Matanya beralih cepat ke kursi di hadapannya, lalu ke foto di dinding. Ia baru saja teringat bahwa wanita dalam foto itu bukan istrinya, melainkan kakaknya. Istrinya sendiri sedang berjuang melawan penyakit di kota selama sebulan ini, namun ingatannya yang mulai tergerus usia telah menukar realitas. Ia menghela napas panjang, menatap cangkir kopi yang masih mengepul, sadar bahwa kesepian yang selama ini ia pelihara ternyata adalah cara otaknya melindungi diri dari kenyataan pahit yang perlahan mulai ia ingat kembali.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *