Aku menghuni sudut paling sunyi di antara segalanya, Menyimak binar tawa yang memancar dari lisan-lisan terjaga. Terdengar ringan, mengalir tanpa beban dan dusta, Hingga lahir tanya "Mampukah aku sebahagia mereka?"
Dari sudut yang senyap ini, aku mulai menimbang, Bahwa tak ada keberuntungan bagi siapa pun yang datang. Rasa tak pantas kerap hadir, mencekik setiap ambisi, Memaksaku menarik diri, menjaga jarak tetap abadi.
Aku selalu lari dari rasa yang mulai berakar, Sebab takkan kubiarkan duniaku yang sunyi terbongkar. Bagiku, lebih baik lenyap tanpa satu pun alasan, Daripada membiarkan seseorang tenggelam dalam kekacauan.
Senyum mereka merekah sefasih kata-kata, Tawa yang lepas semudah embusan udara. Namun hangat yang membara itu hanyalah tontonan, Bagiku yang terkurung di sudut penuh kerentanan.
Biarlah aku tetap menjadi rahasia yang tak terbaca, Memeluk sunyi di balik bilik yang tak berjendela. Sebab di duniaku yang mati, aku adalah raja, Yang lebih memilih sepi daripada luka yang sengaja dicipta.
Leave a Reply