
Models Jurnalisme, 17 Mei 2026 – Di depan monitor laboratorium SMK Muhammadiyah 8 Siliragung (SMK Models), jemari Esti Juliana Rahayu terbiasa lincah merajut kode dan menguji jaringan digital. Namun pada Rabu, 13 Mei 2026, di bawah kubah terik Gelanggang Olahraga (GOR) Tawangalun, Banyuwangi, sepuluh jemari siswi kelas XI Teknik Jaringan Komputer dan Telekomunikasi (TJKT) A itu beralih fungsi menjadi pengait hidup dan mati. Mencengkeram tiap jengkal poin tebing vertikal demi menyapu bersih dua gelar juara 1 sekaligus pada cabang olahraga panjat tebing kategori Speed WR (World Record) dan Lead putri.
Sejak Selasa, 12 Mei 2026, Esti sukses meruntuhkan dominasi puluhan atlet tangguh dari berbagai SMA, SMK, dan MA se-Kabupaten Banyuwangi dalam ajang Olimpiade Olahraga Siswa Nasional (O2SN) cabang olahraga panjat tebing putri. Lewat kemenangan mutlak tanpa ampun ini, ia resmi mengunci tiket emas tunggal untuk melaju, membawa nama Kabupaten Banyuwangi ke panggung O2SN Tingkat Provinsi Jawa Timur pada 23 Juni 2026 mendatang.
Di balik selembar sertifikat juara yang kini didekapnya, atmosfer di GOR Tawangalun sebenarnya menyuguhkan tekanan mental yang nyaris tidak menyisakan ruang. O2SN, sebagai panggung talenta tahunan berskala nasional, menerapkan regulasi yang luar biasa ketat. Kompetisi ini hanya membuka pintu bagi para remaja berusia maksimal 18 tahun yang duduk di kelas XI, menyaring ketangkasan mereka lewat empat cabang olahraga utama yaitu renang, atletik, bulu tangkis, dan panjat tebing.
Bagi Esti, tantangan terbesar hari itu bukan sekadar tingginya dinding papan vertikal yang menjulang menantang langit, melainkan regulasi kompetisi yang memaksanya masuk ke dalam ruang karantina yang kedap informasi.
Pada kategori Speed WR, lintasan setinggi belasan meter yang ia hadapi memiliki bentuk dan tata letak poin pijakan yang sama seperti standar nasional. Teknisnya menguji kecepatan. Setelah diberikan satu kali kesempatan untuk mencoba jalur, Esti dan peserta lainnya langsung digiring masuk ke dalam ruang isolasi. Di ruangan sunyi tanpa ponsel dan tanpa akses melihat performa lawan itulah, mental Esti ditempa. Satu per satu mereka dipanggil, langsung berhadapan dengan stopwatch raksasa, memanjat secepat kilat melewati babak kualifikasi, semifinal, hingga babak final.
Belum sempat napasnya kembali teratur setelah adu cepat di kategori pertama, Esti sudah harus memindahkan fokus otaknya ke kategori Lead.
Jika speed adalah tentang ledakan kecepatan, maka lead adalah catur di atas dinding vertikal, sebuah medan pertempuran yang menguji daya tahan (endurance) serta kecerdikan strategi. Di kategori ini, aturan main berubah drastis. Esti sama sekali dilarang menyentuh atau mencoba papan tebing sebelum perlombaan dimulai. Ia hanya diizinkan berdiri di bawah tebing, mendongak dengan pandangan mata yang tajam selama beberapa menit untuk melakukan route reading, membaca rute acak penuh jebakan yang sengaja dipasang oleh pembuat jalur (route setter).
Begitu bel tanda dimulai berbunyi, dengan waktu maksimal 7 menit mulai berjalan mundur. Tubuh Esti memanjat naik, bergantung pada kekuatan beberapa buku jari yang mencengkeram poin-poin kecil demi mengumpulkan skor tertinggi dari setiap pijakan yang berhasil ia capai.

Ketangkasan cengkeraman Esti bukanlah sebuah bakat instan yang tiba-tiba ada. Aroma tali harness dan putihnya bubuk magnesium sudah menjadi bagian dari masa kecilnya sejak duduk di bangku kelas 1 SMP. Darah seorang pemanjat tebing mengalir kental dalam silsilah keluarganya, turun-temurun dari sang paman, kakak laki-laki, hingga kakak perempuannya. Berawal dari rasa penasaran dan coba-coba karena sering melihat keluarganya berlatih, olahraga itu kini berevolusi menjadi hobi yang mendarah daging di dalam hidupnya.
Namun, bakat keturunan itu harus dibayar mahal dengan kedisiplinan yang menguras energi. Dua minggu menjelang O2SN, jadwal hidup Esti berubah total demi persiapan intensif. Di antara tumpukan tugas praktik jaringan komputer di kelas XI TKJ A, ia harus pintar-pintar mencuri waktu.
Pagi hari sebelum bel masuk sekolah berbunyi, ketika embun Siliragung belum sepenuhnya menguap, ia sudah berada di papan latihan. Malam harinya, saat lampu-lampu pertokoan mulai padam, ia masih bergelut dengan dinginnya tebing panjatnya.
Akibat porsi latihan yang begitu padat, fisik Esti kerap kali mencapai titik nadirnya saat berada di sekolah. “Pernah sesekali sampai ketiduran di dalam kelas pas jam pelajaran karena saking capeknya latihan malam,” ujarnya sembari tertawa kecil, mengenang bagaimana kelopak matanya sering kali menolak diajak kompromi di depan meja praktik komputer.
Perjuangan fisik itu kian berat ketika ia harus menebalkan telinga dari skeptisisme lingkungan sekitar rumahnya. Langkah kakinya yang kerap mengetuk pintu rumah larut malam seusai latihan sempat mengundang kasak-kusuk kurang menyenangkan dari orang-orang sekitar. Beberapa sudut pandang konvensional meragukan masa depan seorang anak perempuan yang memilih bergelut dengan olahraga ekstrem yang dianggap tidak ada gunanya. Namun, alih-alih membalas dengan amarah atau drama, Esti memilih menyalurkan energinya ke ujung jari kaki dan tangannya, membungkam keraguan itu melalui pembuktian nyata.

Berdiri di podium tertinggi setelah menyisihkan total 6 peserta perempuan dan mengimbangi standar kedisiplinan 8 peserta laki-laki di arena, tidak membuat sorot mata Esti berubah jumawa.
Saat ditanya mana sekolah di Kabupaten Banyuwangi yang menjadi lawan paling berat dan sempat membuatnya cemas, jawaban yang keluar dari bibirnya justru mencerminkan kedewasaan berpikir seorang atlet sejati.
“Setahuku musuh itu nggak ada yang berat, kecuali rasa malas kita sendiri,” ungkap Esti dengan nada tenang.
Bagi Srikandi SMK Models, Ia memegang prinsip teguh bahwa esensi dari sebuah perlombaan adalah ketika seorang atlet mampu melampaui catatan waktu terbaik (best time) miliknya sendiri yang biasa didapatkan selama latihan. Juara, baginya, hanyalah sebuah bonus dari sebuah proses panjang yang dirawat dengan konsistensi tanpa tapi.
Riuh tepuk tangan di GOR Tawangalun kini telah mereda, dan media sosial SMK Models mungkin sedang ramai merayakan namanya. Namun, di sudut ruang kelas XI TKJ A, Esti sudah kembali mengemas tasnya, bersiap menghadapi dinding kompetisi yang jauh lebih tinggi dan menantang di tingkat provinsi pada bulan Juni nanti. Srikandi itu berjalan pulang, siap kembali mengikat tali sepatu panjatnya erat-erat, menuju puncak yang baru.
Pimred: Saskia
Reporter: Saskia & Lutvia
Editor: Hilda
Fotografer: SMK Models
Layouter: Revaldo
Penulis: Saskia





Leave a Reply